ESDM: Target Listrik Bersih 2025 Sulit Tercapai

ESDM: Target Listrik Bersih 2025 Sulit Tercapai

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan target campuran listrik dari energi terbarukan baru (EBT) sebesar 15,9 persen pada tahun 2025 sulit untuk dicapai. Sampai bulan Oktober 2025, kapasitas listrik yang berasal dari energi bersih baru mencapai 14,4 persen dari total kapasitas nasional.

"Mustahil tercapai," kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno setelah menghadiri rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis, 13 November 2025.

Tri menjelaskan, dari total kapasitas EBT tersebut, energi air menjadi sumber utama dengan kontribusi lebih dari 7 persen. Diikuti oleh biomassa sebesar 3 persen,panas bumi2,6 persen, matahari 1,3 persen, dan angin 0,1 persen. Sementara itu, sumber energi terbarukan lainnya masih memberikan kontribusi yang kecil.

Menurutnya, pencapaian tersebut menggambarkan dua hal. Pertama, Indonesia memiliki sumber daya energi terbarukan yang besar, namun laju pengembangannya perlu ditingkatkan agar sejajar dengan negara-negara maju dalam proses transisi energi. Kedua, sistem pembangkit listrik nasional masih sangat bergantung pada energi fosil, khususnya batu bara, yang hingga saat ini menjadi sumber utama pasokan listrik di negara ini.

“Kita masih belum mampu sepenuhnya meninggalkan pembangkit listrik tenaga uap karena perannya tetap penting dalam menjaga kestabilan sistem,” ujar Tri.

Ia menyampaikan, meskipun kebijakan dekarbonisasi semakin kuat di tingkat nasional maupun internasional, proses peralihan energi tidak dapat dilakukan dengan cepat. Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar gas tetap memiliki peran yang signifikan karena sifatnya yang fleksibel.

"PLTG mampu menyesuaikan beban listrik dan berperan sebagai penyeimbang, terutama ketika permintaan meningkat atau saat produksi listrik dari energi terbarukan, seperti matahari dan angin, menurun," katanya.

Tri mengungkapkan, capaian EBT sebesar 14,4 persen saat ini merupakan hasil dari perjuangan yang panjang. Pembangunan PLTA di daerah terpencil menghadapi berbagai tantangan, eksplorasi panas bumi memiliki risiko yang tinggi karena sebagian besar berada di kawasan hutan, sedangkan PLTS memang cepat dibangun tetapi sangat bergantung pada kondisi cuaca.

"Perjalanan menuju energi bersih masih panjang. Dibutuhkan percepatan investasi, pengembangan infrastruktur, serta dukungan teknologi agar target bauran energi dapat tercapai," katanya.

Tri menambahkan, kapasitas pembangkit listrik nasional hingga Oktober 2025 mencapai 107 gigawatt (GW). Dari total tersebut, energi terbarukan baru menyumbang 14,4 persen atau sekitar 15,47 GW. Sementara itu, pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batubara masih menjadi yang terbesar dengan kontribusi 55,1 persen atau sekitar 59,07 GW.

Dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menetapkan target penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW. Dari total tersebut, energi terbarukan menjadi yang terbesar dengan 42,6 GW atau 61 persen, diikuti oleh sistem penyimpanan energi sebesar 10,3 GW (15 persen) dan energi fosil sebesar 16,6 GW (24 persen).

RUPTL 2025–2034 menyebutkan bahwa proporsi energi terbarukan dalam campuran listrik nasional akan meningkat secara bertahap. Pada tahun 2025, energi terbarukan ditargetkan mencapai 15,9 persen, naik menjadi 21 persen pada 2030. Selanjutnya, peningkatannya diperkirakan lebih cepat, yaitu 26,1 persen pada 2031, 29 persen pada 2032, 32,5 persen pada 2033, dan mencapai 34,3 persen pada 2034.

RUPTL ini juga bertujuan menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt pada masa 2025–2034. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW atau 61 persen berasal dari sumber energi terbarukan. Di sisi lain, 10,3 GW (15 persen) dialokasikan untuk sistem penyimpanan energi (storage), sedangkan 16,6 GW (24 persen) sisanya berasal dari energi fosil, yang terdiri atas gas sebesar 10,3 GW dan batubara sebesar 6,3 GW.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama