
wartamoro.com, JAKARTA — Analisis terbaru oleh Ember memprediksi bahwa kapasitas energi fosil pada tahun 2025 tidak akan meningkat untuk pertama kalinya sejak wabah Covid-19. Situasi ini dipengaruhi oleh percepatan pertumbuhanenergi terbarukansumber energi matahari dan angin yang berkecepatan tinggi, sehingga mampu memenuhi kebutuhan listrik dunia selama tiga kuartal pertama tahun 2025.
Ember menyatakan bahwa kapasitas energi matahari dan angin tidak hanya bersifat ekspansif, tetapi juga berkembang lebih cepat dibandingkan dengan peningkatan penggunaan energi.
Dalam jangka sembilan bulan tahun 2025, produksi energi surya meningkat sebesar 498 terawatt-jam (TWh) atau naik 13%. Kenaikan volume ini melebihi total produksi listrik tenaga surya selama tahun 2024.
Sementara itu, pembangkit listrik tenaga angin meningkat sebesar 137 TWh atau 7,6%. Secara keseluruhan, kedua sumber energi tersebut memberikan tambahan 635 TWh, melebihi kenaikan permintaan listrik global yang mencapai 603 TWh, sehingga menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 2,7%.
Kombinasi pembangkit listrik tenaga surya dan angin kini menyediakan 17,6% pasokan listrik dunia selama tiga kuartal pertama tahun 2025, meningkat dari 15,2% pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Keseluruhan pangsa energi dengan emisi rendah karbon naik menjadi 43%, sementara energi fosil turun ke 57,1% dari sebelumnya 58,7%.
Pada kali pertama, energi terbarukan yang meliputi matahari, angin, air, bioenergi, dan panas bumi menghasilkan tenaga listrik yang lebih besar dibandingkan batu bara.
Lonjakan energi bersih ini menyebabkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil mengalami stagnasi. Ember mencatat bahwa pembangkit fosil mengalami penurunan kecil sebesar 0,1% atau berkurang 17 TWh pada tiga kuartal pertama 2025.
Analisis Ember memprediksi tidak akan ada pertumbuhan penggunaan energi fosil sepanjang tahun, yang merupakan pertama kalinya sejak wabah Covid-19, meskipun permintaan listrik global tetap meningkat.
Perubahan ini sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan produksi listrik berbahan bakar fosil diChinadan India, meskipun terjadi peningkatan kecil di Eropa dan Amerika Serikat.
Di Tiongkok, pembangkitan listrik berbasis fosil turun sebesar 52 TWh (-1,1%) karena seluruh pertambahan kebutuhan listrik telah dipenuhi oleh energi terbarukan. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan struktural dalam sistem kelistrikan nasional Tiongkok.
Di India, pembangkitan listrik berbahan bakar fosil turun sebesar 34 TWh atau 3,3% karena pertumbuhan energi matahari dan angin yang mencatat rekor serta cuaca yang lebih dingin, sehingga mengurangi permintaan. Kedua pasar ini menjadi faktor utama dalam stagnasi pertumbuhan energi fosil pada tahun pertama sejak pandemi.
Perubahan ini tidak bisa dipisahkan dari pesatnya pertumbuhan energi matahari. Ember menganggap tenaga surya kini menjadi penggerak utama perubahan di sektor listrik global, dengan laju pertumbuhan tiga kali lebih tinggi dibandingkan sumber energi lainnya pada tiga kuartal pertama 2025.
"Peningkatan yang luar biasa dari energi matahari dan kestabilan penggunaan energi fosil pada tahun 2025 menunjukkan bahwa energi bersih kini menjadi faktor utama dalam sektor listrik," kata Nicolas Fulghum, Senior Data Analyst di Ember, dilaporkan dalam rilis pers, Kamis (13/11/2025).
Ia menegaskan bahwa sumber energi fosil yang selama ini menjadi penggerak pertumbuhan kini memasuki tahap stagnasi dan penurunan yang terkendali. Perubahan pola konsumsi energi di Tiongkok menunjukkan bahwa peningkatan permintaan listrik tidak lagi bergantung pada bahan bakar fosil.
Selain perkembangan energi ramah lingkungan, iklim juga turut berkontribusi dalam perubahan ini.
Permintaan listrik dunia hanya meningkat sebesar 2,7% pada bulan Januari hingga September 2025, lebih lambat dibandingkan kenaikan sebesar 4,9% selama periode yang sama di tahun sebelumnya.
Tidak seperti tahun 2024 yang dipengaruhi oleh gelombang panas luar biasa di Tiongkok, India, dan Amerika Serikat, kondisi iklim cenderung lebih sejuk pada tahun ini sehingga mengurangi permintaan energi listrik.
Ember memperkirakan data tahun 2025 menandai tahap baru dalam energi bersih. Untuk pertama kalinya, pertumbuhan energi bersih tidak hanya mampu mengikuti tetapi juga melebihi permintaan listrik global, di luar peristiwa besar seperti pandemi Covid-19 atau krisis keuangan global.
Langkah berikutnya, menurut Ember, akan bergantung pada konsistensi arus perkembangan energi bersih, yang akan menjadi penentu apakah pembangkit energi fosil tetap tidak berubah atau mulai mengalami penurunan yang terus-menerus.
Posting Komentar