
wartamoro.com-Gaza kembali mengalami bencana kemanusiaan pada hari Minggu, 3 Agustus 2025. Paling sedikit 27 warga Palestina tewas akibat tembakan pasukan Israel di lokasi pendistribusian makanan. Menurut laporan The Guardian, Senin 4 Agustus 2025, kejadian tersebut terjadi saat kondisi kelaparan semakin memburuk, seiring dengan meningkatnya kemarahan regional terhadap kunjungan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, ke Kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur.
Menurut pejabat kesehatan Palestina, pasukan Israel melepaskan tembakan terhadap kerumunan warga yang sedang antri untuk mendapatkan bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) di wilayah selatan Gaza. Saksi mata menggambarkan suasana mencekam ketika peluru menghujani warga yang lapar.
"Saya tidak mampu berhenti membantu karena peluru terus menghujani," kata Yousef Abed kepada Associated Press.
Dalam 24 jam terakhir, jumlah total korban jiwa akibat serangan dan tembakan Israel di Gaza mencapai 119 orang, termasuk mereka yang sedang mencari bantuan. Sejak 27 Mei, PBB melaporkan lebih dari 1.400 orang tewas saat berusaha mengakses bantuan, sebagian besar berada di sekitar lokasi distribusi GHF maupun jalur konvoi bantuan.
Kondisi kelaparan semakin memburuk. Enam orang dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi dalam satu hari, sehingga jumlah korban kelaparan sejak awal krisis mencapai 175 jiwa, dengan 93 di antaranya adalah anak-anak.
Para ahli menyebutkan angka kematian akibat kelaparan pada Juli melebihi total dari 20 bulan sebelumnya, menunjukkan krisis kemanusiaan yang semakin memburuk.
"Kebutuhan akan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan dalam jumlah besar untuk menstabilkan situasi ini," kata juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Gaza, Hisham Mhanna. Ia menambahkan, pasien dan rumah sakit memerlukan pasokan makanan yang lebih banyak untuk mendukung proses pemulihan.
Sejak dimulainya operasi militer Israel setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 warga Israel, jumlah korban jiwa di Gaza telah mencapai 60.839 orang.
Provokatif
Pada saat yang bersamaan, tindakan provokatif datang dari Yerusalem Timur. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memimpin ibadah di Kompleks Masjid Al-Aqsa dengan pengawalan militer, bersama sekitar 1.250 orang.
Ini adalah pertama kalinya seorang menteri Israel secara terbuka berdoa di kawasan yang juga dikenal sebagai Mount Temple—lokasi paling suci dalam agama Yahudi dan ketiga paling suci dalam agama Islam.
Kunjungan tersebut dilakukan pada saat perayaan Tisha B’Av, hari berkabung atas hancurnya dua Kuil Yahudi. Namun, bagi banyak pihak, tindakan Ben-Gvir dianggap sebagai provokasi yang berisiko memicu ketegangan baru.
Yordania, yang menjadi pemegang hak pengelolaan lokasi tersebut, mengecam dengan tegas kunjungan itu. "Ini adalah provokasi yang tidak dapat diterima," tegas Kementerian Luar Negeri Yordania dalam pernyataannya.
Ben-Gvir bahkan mengusulkan agar Gaza dijadikan bagian dari wilayah tersebut dan penduduknya meninggalkan daerah itu.
Di unggahan di platform X, ia menyampaikan, "Pesan harus jelas: kita perlu menguasai seluruh Jalur Gaza, mengumumkan kedaulatan. Hanya dengan cara ini kita dapat memulihkan tawanan dan memenangkan konflik."
Kontroversi ini muncul di tengah tekanan masyarakat Israel setelah Hamas merilis dua video pada akhir pekan lalu yang menampilkan kondisi tawanan Israel yang terlihat sangat kurus.
Video tersebut memicu demonstrasi di berbagai kota Israel, yang menuntut pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan para korban.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada hari Minggu, 3 Agustus 2025, meminta bantuan ICRC untuk mengirimkan makanan dan obat-obatan kepada para tawanan.
Hamas mengatakan siap memperbolehkan pendistribusian bantuan oleh Palang Merah selama Israel menghentikan "seluruh aktivitas udara" saat pengiriman paket berlangsung.
Posting Komentar