Duka Mendalam: Pilot F-16 'Red Wolf' Tewas dalam Kecelakaan Microlight

Duka Mendalam: Pilot F-16 'Red Wolf' Tewas dalam Kecelakaan Microlight wartamoro.com-Kematian Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto, SH, MBA, MSi, dalam kecelakaan pesawat latih sipil Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan nomor registrasi PK-S126 yang dimiliki Federasi Aero Sport Indonesia (FASI), terjadi di kawasan Ciampea, Kabupaten Bogor, pada hari Minggu 3 Agustus 2025, menyebabkan rasa duka yang mendalam bagi para atlet olahraga terjun payung nasional serta masyarakat di Kabupaten Bogor.

Almarhum meninggalkan dua putra, yaitu Naufal Firdaus Sandy Kusuma dan Akmal Fadhilah Randy Kusuma beserta istrinya, Dewi Kurnia.

"Tokoh Almarhum Marsma TNI Fajar Ardiyanto dikenal sebagai seseorang yang sangat baik dan rendah hati selama hidupnya," kata Ikhwan, salah satu atlet nomor lomba kerja sama antarparasut Kabupaten Bogor, Senin 4 Agustus 2025.

Fajar, menurutnya, dikenal ingin mendengarkan usulan dan saran yang datang dari mana saja, baik dari militer maupun sipil, senior maupun junior, yang mampu memberikan kemajuan dan perbaikan pada organisasi FASI.

"Secara pribadi, saya sangat kehilangan sosok beliau yang dikenal sebagai orang yang sangat peduli terhadap para penggemar dirgantara yang berada di bawah naungan FASI, tidak hanya terbatas pada penerbangan pesawat bermotor yang diminati almarhum," kata Ikhwan yang juga pernah menjadi bagian dari kepengurusan PB FASI periode 2020-2023.

Fajar juga dianggap sebagai tokoh yang sangat baik dan memperhatikan para atlet.

Ikhwan juga menyebut salah satu perhatian almarhum yang sangat dirasakan oleh Pengurus Cabang (Pengcab) Terjun Payung Kabupaten Bogor, yaitu dengan dialokasikannya satu set terbaru parasut ketepatan mendarat yang menjadi milik Pusat Pembinaan Potensi Dirgantara TNI Angkatan Udara (Puspotdirga) untuk digunakan atlet Kabupaten Bogor berlatih. Langkah tersebut kemudian dilanjutkan oleh pejabat penggantinya.

Seperti yang pernah dilaporkan sebelumnya, Fajar Adriyanto adalah lulusan Akademi Angkatan Udara pada tahun 1992 dan merupakan pilot pesawat tempur F-16 dengan panggilan "Red Wolf".

Selama karier profesionalnya, ia pernah menjabat berbagai posisi penting, seperti Komandan Skadron Udara 3, Komandan Lanud Manuhua, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara, Kepala Pusat Potensi Dirgantara, Asisten Potensi Dirgantara, Kepala Staf Koops Udara Nasional, serta Kepala Kelompok Staf Ahli Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan Angkatan Udara.

Ia diakui sebagai sosok yang sangat berkomitmen dan menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah TNI AU, termasuk peran serta dalam kejadian udara dengan pesawat F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat di langit Bawean pada tahun 2003.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama